Day after Day


Day after day, setiap orang akan merasakan dan melalui yang nama nya penyesalan. kata orang penyesalan selalu berada di akhir, selalu muncul diakhir. Tapi, menurut saya penyesalan juga bisa muncul diawal. Wujud jenis ini memang sedikit berbeda dengan penyesalan yang kita rasakan diakhir-akhir cerita. Kadang disaat kita dalam keadaan harus memilih atau sedang dalam keadaan bimbang, akan ada sesuatu yang kita rasakan tapi sulit untuk diutarakan, sulit untuk dijabarkan. And from my point of view that’s also what I called penyesalan. Hal yang kita rasakan sebelum mengambil keputusan itu-lah yang saya juga anggap sebagai penyesalan. Dan seharusnya seandainya saya tergolong orang yang bijak penyesalan yang saya rasakan di depan itu bisa membawa saya into the right path. Berdoa, meminta petunjuk kepada Sang pemberi rasa bimbang, Sang pemberi rasa bingung dengan rasa sesal dengan sadar-sesadar nya bahwa you are just a little part of this world, His world. Not bigger than sebuah atom or not heavier than wings of a mosquito.
Day after day, Bayi yang dulu-nya setiap langkahnya menjadi sasaran orangtuanya karena dianggap masih terlalu lemah, kini menjadi sasaran kejam-nya dunia luar karena dianggap terlalu kuat.  Anak yang dulu-nya selalu membangunkan ibunya dari tidur-nya karena menangis meminta untuk diberi ASI, kini membuat ibunya terjaga sepanjang malam karena memikirkan tingkah bayinya yang dulu tak pernah terpintas akan tumbuh menjadi sosok “semenyeramkan” ini.
DAY AFTER DAY
#

Comments

Popular posts from this blog

Review Wirda Mansur's 4th book "Remember me & I will Remember you"

MODERASI BERAGAMA DI ERA 4.0

Lirik lagu dan arti Gravity oleh Sara Bareilles