MODERASI BERAGAMA DI ERA 4.0

Apabila kita berbicara mengenai moderasi dalam beragama, statement menteri agama Indonesia 2 tahun lalu yang sempat viral akan otomatis muncul,
“Beragama itu bukan untuk menyeragamkan keragaman tapi untuk menyikapi keragaman dengan penuh kearifan”
 see betapa indahnya jika kita semua paham dan bisa menerapkan moderasi ini. perbedaan sebenarnyakan sangat indah jika kita mampu membawa perbedaan tersebut kedalam kebeneran. “berlebihan” pada hakikatnya memiliki ukuran yang berbeda-beda dimasing-masing individu. Tapi, apabila ada sebuah dasar, ada sebuah pegangan, kiblat yang dijadikan sebagai pedoman seharusnya sebanyak apapun perbedaan yang muncul tidak akan menjadi sebuah masalah maupun penghambat.

     Moderasi dalam era sekarang ini tentu akan sangat crucial. Perbedaan peradaban zaman sekarang dengan zaman-zaman sebelumnya yang sangat berbeda akan sangat memungkinkan munculnya perbedaan dalam memandang,dalam menilai sesuatu yang tentu saja akan berpotensi menimbulkan perdebatan. Oleh karenanya, untuk bisa bermoderasi dengan baik. Menurut Quraish Shihab kita harus memiliki setidaknya 3 hal yang sangat penting. 
Pertama yakni pengetahuan. Apabila kita tidak memiliki pengetahuan, baik itu pengetahuan tentang apa sih moderasi itu maupun pengetahuan mengenai agama itu sendiri maka akan sangat sulit bagi kita untuk bisa mengimbangi dua atau lebih  hal yang berbeda. Meskipun kita merasa mampu bermoderasi tanpa pengetahuan tersebut tidak ada yang menjamin apakah kita sudah mengambil keputusan yang tepat, karena dalam mempelajari suatu hal kita tidak bisa mengacu pada satu refenresi saja bukan? Kita juga harus mempelajari referensi yang lain.
Yang kedua yang harus kita miliki untuk bermoderasi yaitu, pengendalian emosi.  Yah pengendalian emosi, emosi bukan hanya marah-marah yah.. senang, sedih, rasa tenang juga termasuk emosi. Kenapa kita harus mampu mengendalikan emosi? Sebab dalam bermoderasi nantinya kita tidak hanya akan mengahadapi sesuatu yang sering atau biasa kita hadapi tapi juga akan berhadapan dengan sesuatu yang mungkin baru bagi kita, sesuatu yang mungkin tidak kita sukai jadi untuk bisa tetap objektif untuk bisa tetap berada di track yang benar pengendalian emosi sangat kita butuhkan. Sejauh ini paham kan ? 
Hal terakhir yang harus kita miliki yaitu sikap senantiasa berhati-hati. Iya kehati-hatian sangat dibutuhkan dalam hal ini, bahkan menurut saya senantiasa berhati-hati sangat dibutuhkan dalam semua aspek kehidupan kita misalnya, hati-hati dalam menyukai seseorang .. jangan sampai orang yang kita taksir ternyata laki/bini orang lain kan berabe jadinya. ;) dalam bermoderasi berhati-hati dalam take decision sangat-sangat dibutuhkan. Jangan buru-buru .. tenang.. kalem aja dulu.. supaya jalan yang diambil bukan jalan yang salah lagi menyesatkan … #eaea

Hal yang juga perlu kita ingat dalam bermoderasi yaitu jangan sampai kita bermoderasi nya berlebihan. Ingat! Menjadi moderat bukan berari menjadikan kita lemah dalam beragama, menjadikan kita cenderung akan kebebasan yang tak berdasar, tidak serius maupun bersungguh-sungguh dalam beragama. Big NO for all of these!

Kan enak saat kalau kita paham dengan benar moderasi ini, tidak ada lagi yang namanya “paham ekstrim kanan” alias paham ekstrim yang pemahamannya selalu berdasar pada dominasi teks semata ini itu salah,ini salah. Tidak ada lagi “paham ekstrim kiri” atau paham ekstrim yang hanya berdasarkan pada dominasi akal dalam memahami teks-teks keagamaan. 

Kan enak jika tidak ada lagi doktrin-doktrin agama yang mengajarkan kebencian,kekerasan,pengucilan maupun pengafiran hanya karena perbedaan pendapat. Perbedaan pandangan. 
Jadi mari mulai dari diri kita sendiri. 
#Wallahuallam






Comments

Popular posts from this blog

Review Wirda Mansur's 4th book "Remember me & I will Remember you"

Lirik lagu dan arti Gravity oleh Sara Bareilles